لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ Mengapa kamu mencampur adukkan yang hak dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui? (Qs. Ali Imron :71)

Selasa, 12 Oktober 2010

Mukernas FPI: Jangan Bubarkan FPI

Tema Mukernas II FPI 8–9 Oktober 2010 adalah ”Membangun Loyalitas, Disiplin dan Tanggung Jawab Perjuangan FPI.” Menurut Mentri Agama Suryadharma Ali yang hadir memberikan sambutan, tema ini sangat bagus dan tepat bagi FPI. ”Bicara loyalitas, FPI harus loyal pada Islam, NKRI, dan masyarakat. Bukan segi agamanya saja, yang meliputi akhlak dan akidah tapi juga ekonomi umat,” katanya.
Loyalitas terhadap bangsa, agama dan masyarakat, ujar Menag, mutlak diperlukan, karena itu ruh perjuangan kita. Selain itu, FPI juga harus disiplin dan tetap mengikuti peraturan yang berlaku dan berusaha memperbaiki jika ada kekurangan. Sehingga, ke depan  FPI akan selalu menjadi panutan. “Jika kita tidak mengindahkan loyalitas dan disiplin, itu kurang bertanggungjawab,” tandasnya.
Sekarang ini, tambah Menag, terorisme dan radikalisme sedang menjadi isu besar di negeri ini. Semakin banyak peristiwa radikalisme dan terorisme, maka kian jadi bumbu penyedap untuk mendeskreditkan, merusak,  mencederai kemurnian dan keagungan Islam. Semakin keras kita menolak atau berteriak terhadap liberalisme yang menyerang Islam, ini justru dijadikan pembenaran menyudutkan Islam.
”Ketika saya menjabat Menteri Koperasi, saya menjenguk Habib di tahanan Polda. Kenapa saya menjenguk Habib? Karena saya tak tahan dengan pemberitaan media massa, tentang insiden Monas. Peristiwa itu dijadikan senjata mendiskreditkan Islam. Di mata orang liberal, Islam dikesankan sebagai agama keras, radikal, tidak punya sopan santun, dan main hakim sendiri. Saya tak ingin jabatan sebagai menteri dan Ketua Umum PPP menghalanginya menjenguk Habib. Akhirnya, kami bertemu dan terlibat diskusi untuk mengubah metoda dakwah FPI,” jelasnya.
Menag mengaku bangga dengan FPI, karena FPI mengfungsikan dirinya sebagai pengawal moral bangsa dan akhlak masyarakat. Kebanggaan lain, FPI murni gerakan dakwah bukan politik. Menag menghimbau, jika ada aspirasi yang berkaitan dengan keamanan, datangi Kapolda. ”Cerewetin Kapolda, Kapolres, jika perlu datang ke partai, minta partai Islam istiqamah pada Islam. Jika tidak istiqamah cerewetin partainya, datangi komisi dan fraksi,” sarannya.
Menag juga mengaku selalu membela FPI dihadapan pers. Ia selalu mengatakan, tak ada kebijakan FPI untuk melakukan kekerasan. Jika ada kekerasan itu oknum. ”Sepertinya, pers tak tertarik dengan penjelasan saya, karena mereka suka yang bengkok. Saya juga diteriaki ketika menjenguk Habib di Polda, ”mau  bela Habib Riziq ya,” selorohnya.
Ia menganalogikan dengan tentara dan polisi yang juga bisa tawuran. Tapi tawuran atau tindak kekerasan itu bukan kebijakan institusi, komandan atau panglima, tapi kelakuan orang per orang. Jika bicara oknum, maka tak serta merta instutusinya harus dibubarkan.  ”Saya setuju, metoda dakwah FPI harus lembut, simpatik, tapi tetap tegas,” tandas Menag.
Selanjutnya Menag berharap, FPI akan kian besar, dirahmati berkah, bisa memberi pencerahan pada umat, diberikan kekuatan lahir batin menjadi pengawal moral bangsa dan umat. Kehadiran FPI juga bukan hanya menjaga akidah umat Islam, tapi juga pembangunan ekonomi umat. (Adhes Satria).
mukernasfpiades3Tema Mukernas II FPI 8–9 Oktober 2010 adalah ”Membangun Loyalitas, Disiplin dan Tanggung Jawab Perjuangan FPI.” Menurut Mentri Agama Suryadharma Ali yang hadir memberikan sambutan, tema ini sangat bagus dan tepat bagi FPI. ”Bicara loyalitas, FPI harus loyal pada Islam, NKRI, dan masyarakat. Bukan segi agamanya saja, yang meliputi akhlak dan akidah tapi juga ekonomi umat,” katanya.
Loyalitas terhadap bangsa, agama dan masyarakat, ujar Menag, mutlak diperlukan, karena itu ruh perjuangan kita. Selain itu, FPI juga harus disiplin dan tetap mengikuti peraturan yang berlaku dan berusaha memperbaiki jika ada kekurangan. Sehingga, ke depan  FPI akan selalu menjadi panutan. “Jika kita tidak mengindahkan loyalitas dan disiplin, itu kurang bertanggungjawab,” tandasnya.
Sekarang ini, tambah Menag, terorisme dan radikalisme sedang menjadi isu besar di negeri ini. Semakin banyak peristiwa radikalisme dan terorisme, maka kian jadi bumbu penyedap untuk mendeskreditkan, merusak,  mencederai kemurnian dan keagungan Islam. Semakin keras kita menolak atau berteriak terhadap liberalisme yang menyerang Islam, ini justru dijadikan pembenaran menyudutkan Islam.
”Ketika saya menjabat Menteri Koperasi, saya menjenguk Habib di tahanan Polda. Kenapa saya menjenguk Habib? Karena saya tak tahan dengan pemberitaan media massa, tentang insiden Monas. Peristiwa itu dijadikan senjata mendiskreditkan Islam. Di mata orang liberal, Islam dikesankan sebagai agama keras, radikal, tidak punya sopan santun, dan main hakim sendiri. Saya tak ingin jabatan sebagai menteri dan Ketua Umum PPP menghalanginya menjenguk Habib. Akhirnya, kami bertemu dan terlibat diskusi untuk mengubah metoda dakwah FPI,” jelasnya.
Menag mengaku bangga dengan FPI, karena FPI mengfungsikan dirinya sebagai pengawal moral bangsa dan akhlak masyarakat. Kebanggaan lain, FPI murni gerakan dakwah bukan politik. Menag menghimbau, jika ada aspirasi yang berkaitan dengan keamanan, datangi Kapolda. ”Cerewetin Kapolda, Kapolres, jika perlu datang ke partai, minta partai Islam istiqamah pada Islam. Jika tidak istiqamah cerewetin partainya, datangi komisi dan fraksi,” sarannya.
Menag juga mengaku selalu membela FPI dihadapan pers. Ia selalu mengatakan, tak ada kebijakan FPI untuk melakukan kekerasan. Jika ada kekerasan itu oknum. ”Sepertinya, pers tak tertarik dengan penjelasan saya, karena mereka suka yang bengkok. Saya juga diteriaki ketika menjenguk Habib di Polda, ”mau  bela Habib Riziq ya,” selorohnya.
Ia menganalogikan dengan tentara dan polisi yang juga bisa tawuran. Tapi tawuran atau tindak kekerasan itu bukan kebijakan institusi, komandan atau panglima, tapi kelakuan orang per orang. Jika bicara oknum, maka tak serta merta instutusinya harus dibubarkan.  ”Saya setuju, metoda dakwah FPI harus lembut, simpatik, tapi tetap tegas,” tandas Menag.
Selanjutnya Menag berharap, FPI akan kian besar, dirahmati berkah, bisa memberi pencerahan pada umat, diberikan kekuatan lahir batin menjadi pengawal moral bangsa dan umat. Kehadiran FPI juga bukan hanya menjaga akidah umat Islam, tapi juga pembangunan ekonomi umat. (Adhes Satria).

Tidak ada komentar: