- Sir Sayyid Ahmad Khan lahir di Delhi, 17 Oktober 1817, dan tumbuh di lingkungan yang relijius. Ia mendapatkan pendidikan agama dengan metode klasik dan tradisional. Namun, karena kurang tekun dalam mempelajari bahasa Arab dan Persia, maka pendidikan agama tersebut akhirnya ditinggalkan. Selama masa mudanya, Ahmad Khan banyak menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Tidak jarang ia menghadiri pesta-pesta yang diisi dengan berbagai macam tarian dan nyanyian.
Pada saat ia berusia dua puluh sembilan tahun, ia memutuskan untuk kembali memperdalam ilmu keagamaan yang dahulu pernah ia pelajari pada masa kecilnya. Kini, ia ingin mengejar ketertinggalannya dengan belajar pada beberapa ulama terkemuka pada waktu itu. Pada waktu luangnya, ia menulis beberapa artikel keagamaan, termasuk sebuah biografi Rasulullah saw yang sekalipun bergaya ortodoks, namun cukup berbobot dan bernilai seni.
Karya pertama Sir Sayyid Ahmad Khan yang mendapat penghargaan adalah Athar al-Sanadid yang diterbitkan pada tahun 1847. Buku tersebut berisi sejarah orang-orang terkenal dan monumen-monumen di Delhi. Karya bersejarah ini –yang menggambarkan dengan jelas kedangkalan ilmu agama penulisnya– dicetak ulang pada tahun 1854, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis beberapa tahun kemudian. Pada tahun 1863, Sayyid Ahmad Khan memperoleh penghargaan sebagai anggota kehormatan Royal Asiatic Society di London.
Dalam ulasannya mengenai buku tersebut, seorang penyair Urdu –Ghalib– memberikan saran kepada Ahmad Khan agar mempelajari kebudayaan Inggris daripada menghabiskan waktunya memimpikan masa keemasan peradaban Islam di India. Maka kita akan melihat kemudian, bagaimana keseriusan Ahmad Khan dalam menerima saran penyair tersebut.
Setelah terjadi peristiwa perlawanan rakyat India terhadap pasukan Inggris pada tahun 1857 yang diikuti dengan penjajahan Inggris atas India, Sir Sayyid Ahmad Khan sampai pada kesimpulan, bahwa keselamatan kaum Muslim tergantung pada sejauh mana kerjasama dan persahabatannya dengan Inggris, serta pengambilan budaya Inggris dalam kehidupan mereka. Maka, ia memutuskan untuk menjadikan dirinya sebagai mediator antara Inggris dan kaum Muslim. Ia menyatakan bahwa permusuhan antara kaum Nasrani dan Islam atas dasar perbedaan agama merupakan sesuatu yang diharamkan oleh Islam. Karena, “dari semua agama yang ada di dunia, Islam memberikan penghormatan paling tinggi kepada Kristus dan agamanya.” Ia memberikan jaminan kepada orang-orang Inggris, bahwa Islam mengajarkan “atas kehendak Tuhan, kami berserah diri kepada negara yang memberikan kebebasan beragama, memerintah dengan adil, memelihara perdamaian, serta menghormati kebebasan dan hak milik pribadi sebagaimana yang dilakukan Inggris pada saat ini di India. Kami berkewajiban untuk tetap setia dengan ajaran tersebut.” Dalam upayanya membangun ketundukan kaum Muslim kepada penjajah, Sir Sayyid Ahmad Khan mengutip contoh kesetiaan pengabdian Yusuf kepada Raja Mesir yang kafir.
Semangatnya untuk mengabdi kepada kepentingan imperialis Inggris mendorongnya untuk menerbitkan nota resmi yang berkaitan dengan kesetiaan kaum Muslim dalam mengabdi kepada Pemerintah Inggris. “Saya ingin menjelaskan keuntungan dan kebaikan yang diberikan oleh pemerintahan yang adil ini (Inggris) kepada mereka (kaum Muslim) atas kesetiaan yang telah mereka berikan, agar kebaikan, keadilan, dan dukungan ini semakin dikenal luas, sehingga kaum Muslim di India yang membacanya dapat mengungkapkan rasa terima kasih mereka kepada pemerintahan yang bijak ini.”
Pada bulan April 1869, Pemerintah Inggris memberikan kesempatan kepada Sir Sayyid Ahmad Khan berkunjung ke Inggris untuk melihat dengan mata kepala sendiri kekuatan Inggris, agar dengan demikian dapat mengajak bangsanya untuk mengikuti jejak langkahnya. Ahmad Khan sangat terkesan dengan apa yang ia lihat, dan merasa yakin bahwa keunggulan Inggris atas kaum Muslim bukan hanya dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga dalam hal tata sosial, moral, dan kehidupan spiritual.
Dalam salah satu suratnya dari London, tertanggal 15 Oktober 1869, ia mengirimkan surat ke tanah air yang isinya sebagai berikut:
“Tanpa bermaksud memuji Inggris, saya dapat mengatakan bahwa penduduk pribumi India, baik dari kalangan atas maupun bawah, pedagang atau penjaga toko, yang terpelajar maupun tidak, bila dibandingkan dengan orang Inggris dalam hal pendidikan, adat kebiasaan, dan keadilan adalah ibarat hewan yang dekil dengan seorang pria yang tampan dan trampil. Oleh sebab itulah, orang Inggris mempunyai alasan untuk menyebut kami di India sebagai makhluk liar yang idiot . . . Apa yang telah saya lihat dan saksikan sehari-hari sama sekali tak dapat dibayangkan oleh orang India. Yang paling menyedihkan adalah kalangan pengikuti Muhammad yang bersikap tertutup dan berpuas diri dengan keadaan mereka. Mereka masih saja mengenang hikayat-hikayat kuno dari nenek moyangnya dan senantiasa berpikir bahwa tidak ada umat lain yang seperti mereka. Kini, pengikut Muhammad yang ada di Turki dan Mesir sudah lebih beradab. Tanpa pendidikan modern yang dipaksakan kepada masyarakat, sebagaimana yang terjadi di sini, tidak mungkin penduduk pribumi bangkit menjadi masyarakat yang beradab dan terhormat.”
Sir Sayyid Ahmad Khan bertekad untuk membuktikan bahwa Islam dapat menjelma menjadi agama kemanusiaan, peradaban, dan kemajuan, bila konsep-konsep kuno dan adat istiadat yang bertentangan dengan semangat zaman modern ditinggalkan.
Untuk “mengangkat martabat” kelompok Muslim, Sir Sayyid Ahmad Khan mendirikan sebuah sekolah di kota Aligarh pada tahun 1878. Karena tidak yakin kalau bahasa Arab, Persia, Urdu, maupun berbagai dialek bahasa India cukup menjadi bekal bagi para pelajar. Ahmad Khan menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di sekolah tersebut. Pada tahun 1920, Aligarh dinaikkan statusnya menjadi sebuah universitas.
Sayyid Ahmad Khan adalah pelopor utama pemikiran modernisme. Beberapa pemikiran apologetik yang berasal dari Ahmad Khan adalah:
Poligami bertentangan dengan “semangat” Islam dan harus dilarang, kecuali untuk kasus-kasus tertentu yang sangat jarang.
Islam sama sekali melarang perbudakan, termasuk perbudakan terhadap para tawanan perang yang sebenarnya dihalalkan oleh syariat.
Perbankan modern, transaksi bisnis, kredit, dan perdagangan internasional yang dijalankan oleh sistem perekonomian modern –yang semuanya melibatkan pembayaran bunga– tidak termasuk dalam pengertian riba, sehingga tidak bertentangan dengan hukum-hukum dalam al-Qur’an.
Hukuman yang ditetapkan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, seperti potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pelaku zina yang mukhshan, dan seratus kali cambukan bagi pezina yang ghairu mukhshan adalah hukuman yang barbar dan hanya cocok untuk sebuah masyarakat primitif yang belum mengenal hukuman penjara.
Jihad diharamkan, kecuali untuk sejumlah kasus yang membutuhkan pembelaan diri.
Satu-satunya kriteria yang menjadi landasan bagi Sir Sayyid Ahmad Khan untuk menunjukkan kebenaran Islam adalah kesesuaian Islam dengan sifat-sifat alamiah yang berlaku pada abad ke sembilan belas. Ia berpendapat bahwa bila suatu agama mempunyai kesesuaian dengan sifat alami manusia atau sifat alamiah secara umum, maka bisa dipastikan bahwa agama tersebut merupakan agama yang benar. Namun demikian, untuk membuktikan bahwa Islam adalah agama ilmu pengetahuan dan pemikiran, ia harus mengingkari berbagai hal yang gaib, bukan hanya mukjizat, malaikat, jin, dan kelahiran Isa dari perawan suci Maryam, atau menggambarkan peristiwa Mi’raj-nya Nabi saw hanya sebagai sebuah mimpi, tetapi juga menafikan keberadaan hari kebangkitan (yaumul ba’ts), hari penghisaban (yaumul hisab), surga dan neraka, yang semua itu menurut Ahmad Khan tidak boleh diyakini secara harfiah, tetapi hanya secara simbolik. Lebih jauh lagi, ia bahkan mengibaratkan fenomena turunnya wahyu dengan keadaan halusinasi akibat jiwa yang sakit!
Sir Sayyid Ahmad Khan membangun konsepsinya tentang Tuhan menurut konsep ketuhanan Deists yang berasal dari abad ke-18. Baginya, Tuhan hanyalah sebuah abstraksi jarak jauh. Menurut pendapatnya, Tuhan tidak mampu mengubah hukum alam, karena hukum alam bersifat tetap dan tidak berubah. Konsekuensinya, berdoa kepada Tuhan merupakan sesuatu yang tidak masuk akal. Sebagaimana penyakit flu, dalam pandangan Deists, Tuhan tidak mungkin dapat memberikan manfaat –walau sedikit– kepada kita.
Menurut Sir Sayyid Ahmad Khan, al-Qur’an dan as-Sunnah hanya mengatur urusan peribadatan semata. Ayat-ayat al-Qur’an dan nash-nash Hadits yang mengatur masalah sosial, ekonomi, atau budaya hanya berlaku pada masyarakat primitif semasa Nabi masih hidup, dan sama sekali tidak cocok untuk kehidupan modern dan maju sebagaimana sekarang ini. Oleh karena itu, kaum Muslim tidak wajib mengikuti Islam secara kaffah sebagai ideologi dan tidak ada halangan untuk mengadopsi budaya Barat.
Dari tulisan di atas, kita bisa melihat dengan jelas bahwa Ahmad Khan sama sekali tidak memiliki keinginan untuk memperjuangkan kebangkitan Islam. Sejauh ini ia hanya mempunyai keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat Muslim di India, atas dasar asumsi bahwa semakin besar kemajuan yang diraih akan semakin tinggi kesejahteraan rakyat. Dalam melaksanakan “perjuangan” tersebut, Sayyid Ahmad Khan sama sekali mengabaikan fakta bahwa tidak pernah ada suatu kaum dalam lintasan sejarah yang mampu hidup sejahtera di bawah hukum-hukum asing.
Mirza Ghulam Ahmad (1839 – 1908) dengan penuh setia mengikuti langkah-langkah yang diambil oleh gurunya itu. Ketika Mirza Ghulam Ahmad menyatakan bahwa pertumpahan darah akibat penjajahan Inggris merupakan sesuatu yang sepantasnya (wajar), namun memiliki anggapan bahwa jihad adalah suatu kejahatan, maka jelas bahwa ia hanya mengikuti gagasan-gagasan Sir Sayyid Ahmad Khan.
Ketika tengah menjalani masa pengasingannya di India, Jamaluddin al-Afghani (1838 – 1897) sempat berkenalan dengan Sir Sayyid Ahmad Khan, kemudian dalam majalah al-‘Urwah al-Wutsqa ia menyatakan:
“Pemerintah Inggris menganggap Sir Sayyid Ahmad Khan sebagai sarana yang efektif untuk meruntuhkan semangat perlawanan kaum Muslim, sehingga mereka memuji dan memberikan gelar kehormatan kepadanya serta membantunya mendirikan sekolah di Aligarh, kemudian menyebut lembaga tersebut sebagai sekolah Islam sebagai jebakan untuk menjaring putri-putri orang mukmin dan menyebarluaskan kekafiran di antara mereka. Materialis seperti Sir Sayyid Ahmad Khan merupakan oknum yang bahkan lebih buruk dari para materialis di negara-negara Barat, yang meninggalkan agamanya namun tetap menyisakan patriotisme dalam dada mereka serta tidak kehilangan semangat untuk mempertahankan tanah tumpah darah mereka. Sedangkan Sir Sayyid Ahmad Khan dan teman-temannya justru mewakili kepentingan negara asing penjajah.”
Pengaruh Sir Sayyid Ahmad Khan di kalangan para modernis tidak terlalu besar. Namun demikian, ungkapan-ungkapan apologetiknya masih saja diikuti hingga saat ini. Ameer Ali, Chiragh Ali, Khuda Bakhsh, Ghulam Ahmad Parvez, Khalifa Abdul Hakim, dan Maulana Muhammad Lahori dari kalangan gerakan Ahmadiyah bahkan tidak sekedar mengulang-ulang gagasannya, tetapi justru mempraktekannya. Saat ini –kalaupun ada– hanya sedikit saja orang yang mengikuti pendapatnya. (Maryam Jameelah, Islam and Modernism)
Referensi:
The Reforms and Religious Ideas of Sir Sayyid Ahmad Khan, J.M.S. Baljon, Syaikh Muhammad Ashraf, Lahore, 1964
The Religious Thought of Sayyid Ahmad Khan, Bashir Ahmad Dar, Institute of Islamic Culture, Lahore, 1957
Tidak ada komentar:
Posting Komentar